Review Film Frankenstein (2025): Sang Monster Bukan Lagi Sekadar Potongan Tubuh, Tapi Jiwa yang Meratap

Review Film Netflix

Review Film Frankenstein (2025): Sang Monster Bukan Lagi Sekadar Potongan Tubuh, Tapi Jiwa yang Meratap

Yo, para penggila film! Gimana kabar kalian? Khusus buat kamu yang doyan banget nonton hal-hal yang bikin mikir sekaligus bikin merinding, siap-siap ya, karena kali ini kita bakal menyelami sebuah karya yang katanya bakal ngasih perspektif baru tentang sosok yang udah melegenda: Frankenstein. Film yang rencananya rilis di tahun 2025 ini, berdasarkan berita yang baru aja aku baca dari IDN Times, berjanji buat ngedongkeng cerita dari sisi yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Yup, kali ini, fokusnya bukan lagi cuma soal horor klasik, tapi lebih ke sisi humanis sang ‘monster’. Menarik, bukan?

Mengapa ‘Frankenstein’ (2025) Begitu Dinanti?

Sejak pertama kali Mary Shelley ngasih kita kisah Victor Frankenstein dan ciptaannya yang mengerikan itu di tahun 1818, sosok ‘monster Frankenstein’ sudah jadi ikon pop culture yang tak terbantahkan. Tapi, mari kita jujur, selama ini kita lebih banyak melihatnya sebagai produk eksperimen yang mengerikan, kumpulan bagian tubuh yang dijahit jadi satu, kemudian hidup dan mengamuk. Film-film sebelumnya kebanyakan fokus pada sisi kelamnya, pada ketakutan yang ditimbulkannya, dan pada kegagalan ilmiah yang jadi bencana. Tapi, kali ini, ada angin segar yang berhembus.

Menurut rangkuman dari IDN Times, film ‘Frankenstein’ (2025) ini bakal ngajak kita buat lebih dalam lagi ke dalam jiwa sang monster. Bayangkan aja, apa jadinya kalau kita menempatkan diri di posisi makhluk yang diciptakan tanpa cinta, tanpa identitas, dan hanya disambut dengan rasa jijik dan ketakutan? Ini bukan lagi soal monster yang jahat dari sananya, tapi monster yang jadi jahat karena perlakuan dunia terhadapnya. Sebuah sudut pandang yang super kuat dan punya potensi besar buat jadi film yang emosional.

Pergeseran Fokus: Dari Sang Pencipta ke Sang Ciptaan

Selama ini, hampir semua adaptasi ‘Frankenstein’ selalu menyorot Victor Frankenstein. Kegelisahan ilmiahnya, ambisinya yang kebablasan, hingga penyesalannya yang datang terlambat. Nggak salah sih, karena dialah yang jadi penggerak cerita. Tapi, bayangkan kalau kali ini, kamera lebih banyak diarahkan ke sang ‘monster’. Bagaimana dia belajar tentang dunia? Bagaimana dia merasakan sakitnya penolakan? Bagaimana dia mencoba memahami eksistensinya sendiri dalam dunia yang nggak mau menerimanya?

Ini adalah sebuah pergeseran fokus yang krusial. Ini artinya, film ini nggak cuma sekadar mau ngasih adegan kejar-kejaran atau teror berdarah. Ini adalah tentang eksplorasi eksistensial. Ini adalah tentang bagaimana sebuah kesadaran muncul dan berjuang untuk menemukan makna di tengah kegelapan. Ini adalah tentang pertanyaan mendasar: apa yang membuat kita menjadi manusia? Apakah hanya dari fisik, atau dari kemampuan kita untuk merasakan, mencintai, dan berempati? Kalau sang ‘monster’ ini punya semua itu, apakah dia masih pantas disebut ‘monster’?

Potensi Narasi yang Menggugah Hati

Aku membayangkan, film ini bakal punya banyak momen-momen yang bikin kamu terdiam, merenung, bahkan mungkin sampai meneteskan air mata. Adegan di mana sang monster pertama kali melihat pantulan dirinya di cermin, mungkin bukan lagi adegan ketakutan yang berteriak, tapi adegan kesedihan mendalam atas wujudnya yang tak sempurna. Adegan di mana dia mencoba berkomunikasi dengan manusia, tapi hanya mendapatkan lemparan batu dan teriakan. Adegan di mana dia mungkin menemukan sedikit kebaikan, namun kemudian direnggut kembali oleh takdir kejamnya.

Jika cerita ini dieksekusi dengan baik, ‘Frankenstein’ (2025) bisa jadi bukan sekadar film horor, tapi sebuah drama yang menyentuh hati. Ini bisa menjadi sebuah alegori tentang marginalisasi, tentang prasangka, dan tentang betapa mudahnya kita menghakimi sesuatu yang berbeda tanpa berusaha memahaminya terlebih dahulu. Sebuah pelajaran berharga yang selalu relevan, terutama di zaman sekarang yang serba cepat dan seringkali dangkal ini.

Tantangan Produksi dan Ekspektasi Tinggi

Tentu saja, membuat film seperti ini nggak akan mudah. Tantangan utamanya adalah bagaimana menciptakan karakter ‘monster’ yang benar-benar bisa membuat penonton bersimpati. Penampilan fisiknya pasti akan tetap ikonik, tapi bagaimana para aktor dan sutradara bisa menyampaikan kerapuhan, kepolosan awal, dan kemudian kepedihan mendalam melalui akting mereka? Ini yang bakal jadi kunci.

Visualnya juga pasti akan jadi pertimbangan penting. Apakah akan dibuat gelap dan suram untuk mencerminkan kondisi emosional sang monster, atau justru ada momen-momen kontras dengan keindahan alam yang dia lihat, yang semakin mempertajam rasa sepinya? Aku pribadi berharap ada visual yang kuat yang bisa menggambarkan pergulatan batinnya.

Dan tentu saja, dialog. Bagaimana karakter ‘monster’ ini akan berbicara? Apakah dia akan memiliki kemampuan bicara yang terbatas di awal, kemudian berkembang seiring waktu? Atau justru dia akan jadi sosok yang lebih pendiam, namun setiap gerak-geriknya penuh makna? Semua ini adalah elemen yang harus dirancang dengan sangat hati-hati agar pesan kemanusiaannya bisa tersampaikan dengan utuh.

Verdict Awal: Siap-siap Terbawa Emosi!

Dari informasi yang kudapat dari IDN Times, film ‘Frankenstein’ (2025) ini punya potensi besar untuk jadi film yang nggak cuma menghibur, tapi juga meninggalkan kesan mendalam. Kalau kamu selama ini cuma kenal Frankenstein sebagai monster seram yang suka ngamuk, bersiaplah untuk melihat sisi lain yang jauh lebih kompleks dan menyentuh. Ini bukan lagi soal membedah mayat demi ilmu, tapi soal merangkai jiwa yang tersesat.

Aku pribadi sudah nggak sabar menanti rilisnya. Ekspektasiku tinggi, tapi bukan berarti tanpa keraguan. Semoga saja, para pembuat film ini benar-benar bisa mewujudkan visi cerita yang ‘manusiawi’ ini tanpa terjebak dalam klise atau melodrama yang berlebihan. Kalau berhasil, ini bisa jadi salah satu film yang paling memorable di genre horor-drama dalam beberapa tahun terakhir. Mari kita tunggu saja kabar selanjutnya, ya! Tetap semangat nonton, dan jangan lupa diskusikan film ini setelah kamu menontonnya nanti!

Disclaimer: Artikel ini adalah ulasan dan informasi hiburan dari DiTopUp.id. Hak cipta gambar dan film adalah milik studio/platform terkait (Netflix, Disney+, dll).

Cek juga Lainnya